Sabtu, 27 Juli 2013

Warga Desa Ngemplak, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, heboh setelah salah seorang penduduknya ditangkap polisi. Usut punya usut, ternyata warga bernama Muhyaro (41) terlibat pembunuhan berantai.

Mendengar kabar itu warga pun berbondong-bondong mendatangi lokasi kejadian. Tak hanya dari Magelang, ada juga yang bela-belain datang dari Ambarawa, Temanggung, Kebumen, Purworejo, bahkan dari Yogyakarta.

Sebenarnya sudah lama Muhyaro memiliki tabiat jelek. Pada 2005, pria yang memiliki tiga istri itu ditangkap karena mencuri sapi. Tapi kasus itu tak sampai ke ranah hukum. Muhrayo hanya di sidang oleh warga dan perangkat desa.

Tapi kali ini perbuatan Muhrayo tidak bisa ditolerir. Entah dari mana asalnya, dia mengaku bisa menggandakan uang. Tak tanggung-tanggung salah satu korbannya adalah Yulanda Rifan, putra guru besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.

Karena akal bulusnya mulai terendus oleh manusia yang ingin cepat kaya, Muhrayo kalap. Dia menghabisi Yulanda, dan dua korban lain. Kini sudah tiga jenazah ditemukan, namun polisi menduga masih ada korban-korban lain.

Pengusutan kasus ini terkendala karena Muhrayo tewas setelah terjun ke jurang bersama anggota Direskrimum Resmob Polda Jateng AKP Yahya R Lihu. Kala itu tangan keduanya terborgol.

Sejumlah warga mengaku sudah melihat keanehan dari perilaku Muhrayo. Bahkan kehidupannya pun sangat misterius. Muhrayo lebih senang menutup diri, dan membatasi diri bergaul dengan warga.

Bangun rumah mewah di lereng gunung, Rumah itu berdiri kokoh dengan cat berwarna abu-abu, tak ada bangunan lain di sisi kiri dan kanannya. Rumah mewah di Desa Ngemplak itu ditempati oleh Muhrayo, pria yang mengaku bisa menggandakan uang.

Layaknya rumah seorang tersangka teroris, pria beristri tiga itu menutup rapat-rapat rumah, tak bisa sembarangan orang bertamu. Bahkan, untuk menuju rumah Muhyaro harus menyeberangi jembatan bambu sepanjang kurang lebih tujuh meter.

Warga menilai Muhyaro memang sudah hidup mewah dengan gelimangan harta. Di dalam rumah berkamar empat itu ada mebel mewah, dan lantainya berkeramik. Lokasinya memang cukup jauh dari pemukiman warga.

Sering terima tamu tengah malam, warga Desa Ngemplak, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, kerap kali memergoki Muhyaro menerima tamu saat tengah malam. Bahkan, para tamu yang datang itu dari luar kota, karena banyak warga tak mengenalinya.

Tak hanya datang lalu pulang, ada juga tamu yang menginap di rumah Muhyaro. Kedatangan tamu-tamu misterius semakin menjadi perhatian karena membawa mobil mewah dan sepeda motor bagus.

"Mungkin ada ritual saat itu. Tapi herannya, kok tidak pernah yang namanya ritual di luar rumah. Pasti di dalam rumah," ujar seorang warga, Hisyam

Petani yang ngaku bisa gandakan uang, Dalam kartu tanda penduduk (KTP), pekerjaan Muhyaro adalah petani atau pekebun. Namun entah dari mana asalnya, pria yang pernah mencuri sapi itu mengaku-ngaku bisa menggandakan uang.

Awalnya modus yang dilakukan Muhyaro dengan mengaku sebagai dukun yang bisa menyembuhkan beberapa pasiennya. Kemudian, meningkat dengan mengaku memiliki kemampuan untuk menambah rejeki dengan cara menggandakan uang.

Kasus penipuan dengan modus penggandaan uang dan berakhir dengan pembunuhan korban-korbannya. Korban banyak yang terpikat karena ingin menambah jumlah uang yang akan digandakan. Bahkan, beberapa korban berkeinginan untuk menggandakan uang yang jumlahnya mencapai ratusan juta.

"Sehingga korban terpikat mencoba menambah uang lebih banyak. Tadinya Rp 30 juta berhasil dobel jadi 60 juta. Ada pengakuan sekitar Rp 300 juta. Bahkan ada korban (menggandakan) Rp 500 juta sampai Rp 1 miliar untuk digandakan," ujar ujar Direskrim Polda Jateng Kombes Purwadi Aryanto.

Suka ziarah ke makam keramat, Ziarah ke makam-makam keramat menjadi rutinitas Muhyaro. Dia meyakini dengan cara itu akan semakin mempertebal ilmunya.

Polisi yang curiga akhirnya menangkap Muhyaro di kawasan Solo saat sedang melakukan ritual berziarah di sebuah makam. Setelah diinterogasi dia mengakui telah menghabisi para pasiennya.

Berbekal pengakuan itu, polisi melakukan penyisiran. Dan benar saja tiga jenazah ditemukan. Namun pengusutan kasus ini terkendala karena Muhrayo tewas setelah terjun ke jurang bersama anggota Direskrimum Resmob Polda Jateng AKP Yahya R Lihu.

5 Tahun tidak bergaul, sejak lima tahun lalu sebelum kasusnya terbongkar, Muhyaro memang sudah menutup diri. Dia membangun rumah mewah, dan membatasi aktivitas dengan warga. Rumahnya berdiri sendiri, hanya dikelilingi kebon.

Di mata warga Desa Ngemplak, Kecamatan Windusari, Muhyaro adalah sosok laki-laki tertutup dan penuh misteri. Pria beristri tiga itu dikenal pendiam dan jarang bergaul dengan warga.

Sebelum dikenal sebagai dukun pengganda uang di kampungnya, Muhyaro sempat ditangkap warga karena mencuri beberapa ekor sapi. Akhirnya, warga pun sempat menyidang Muhyaro yang kala itu masih memiliki satu istri bernama Sutami.




Artikel Lain :